Karsa Enola

Dalam hampa dan pilu kini aku pulang kembali padamu bu... dalam peluk hangat dekapanmu kuluruhkan segala penat serta amarahku. Dalam dekap ibu rasa tenang yang entah kapan pernah kurasakan kini kembali hadir memelukku, sungguh damai. Ibu kini aku mengerti bahwa hidup terkadang memang tak berjalan seperti apa yang telah direncanakan. Entah harus merasa sedih atau senang tapi kini aku tak ingin bermimpi lagi bu.. biarlah alur hidup membawa diriku tumbuh dalam hamparan indah yang mana atau akan membawaku tumbuh dalam gusar keringnya padang nan tandus itu bu. Kehilangan seseorang yang telah merebut seluruh hidup serta cinta dalam diri ini membuat diriku benar-benar gila, namun aku juga tak ingin layu mati secara cuma cuma dalam taman itu. Bungaku layak tumbuh bersemi indah entah di taman yang mana aku akan tumbuh. Bungaku mungkin memang tak secantik bunga lavender yang merekah tumbuh pada awal mei atau akhir agustus itu, tapi biarlah diriku merekah damai seperti bunga kaktus yang tumbuh dalam padang yang tandus itu. Danendra.. kini kau bukan lagi taman tempatku bertumbuh, menggembara lah sejauh mungkin, dalam maaf yang tak pernah terucap semoga segala sesak sakit serta pilu ini tak menuntunmu pada rerumputan liar yang tumbuh tak pernah beraturan itu. Biarkan diri ini mencari taman atau hamparan indah untuk kembali tumbuh dan mekar berseri. Dalam dekapan ibu dan tangis pilu pada sore itu, kuluruhkan semua sesak dalam dada ini, lembut belaian pada tangan ibu membuat tangis ini makin pilu, bagaimana bisa insan yang entah baru berapa lama mengisi hati ini tega mematahkan bunga lily yang ibu rawat dengan penuh kekuatan serta cinta itu. Dalam sorot mata ibu terlihat betapa kecewa serta betapa sakitnya melihat bunga yang telah ia rawat tumbuh mekar indah dirusak begitu saja. "Ibu hanya ingin kau tumbuh dan mekar pada taman nan indah itu" semoga.. semoga entah kapan itu, Tuhan mengizinkanku untuk kembali tumbuh mekar berseri pada taman itu ya bu.. semoga tak akan terulang lagi, aku mati patah serta layu pada hamparan yang menyeramkan itu. Kini aku hanya ingin memeluk tenang serta tumbuh sebagaimana mestinya, aku tak ingin gagal bersemi seperti kemarin bu. Walaupun tak layak aku hanya ingin tetap tumbuh, walau tak cantik aku hanya ingin tetap hidup. Bunga nan indah layak mekar bersemi di tempat nan indah, bunga yang layu bukan berarti tak layak, hanya ia tumbuh di tempat yang tak tepat. Cantiklah untukmu sendiri, suarakan asamu, lepaslah belenggumu, kini..
aku pulang..
membawa terang..
bernyanyi lantang dan
bersenang-senang.

(Pulang - The Jeblogs)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Bait

Enola rindu