Hari-hari Enola lalui dengan perasaan tak menentu, ingin rasanya kaki berlari menjauh sejauh-jauhnya, tetapi hati masih tertahan untuk tetap "menetap". Cuih dasar bodoh! Hardik ku pada diriku sendiri, diriku sendiri? iya, aku memang menyadari memang cukup bodoh diriku ini menghadapi Danendra. Berkali-kali diriku bertanya pada diriku sendiri bagian mana yang kurang dalam diriku? banyak! iya sebetulnya memang banyak ketidak layakan dalam diriku, tapi bukan berarti aku pantas diperlakukan seperti ini bukan? aku ingin merasakan tulusnya cinta tanpa harus merasakan pahitnya cinta pula. Aku ingin tumbuh diliputi kehangatan cinta, kekuatan cinta, serta ketulusan cinta, Tuhan aku ingin! Dalam benakku terlintas sebuah keinginan untuk berlari mencari cinta yang lain, tapi dimana Tuhan? terlintas dalam benakku lagi "mungkin memang diriku tak layak" fisikku tak sempurna, otakku tak jalan, penampilanku yang seadanya, serta tutur kataku yang tak selembut wanita lainnya. Tuhan ra...