Selanjutnya Bagaimana

 Silih berganti ruang kau penuhi

Ku perlu hadir di semua yang kau tangisi
Panggil aku kapanpun kutemani
Pastikan riuh akhiri malammu lagi

Pastikan Riuh Akhiri Malammu - Perunggu


Sama seperti penggalan lagu diatas, Enola mendambakan 'tempat' yang mampu mengakhiri seluruh riuh di malam hari. Sepertinya seru ya memiliki bahu kekar yang selalu siap siaga memeluk hangat tubuh kecil ini, membelai lembut jiwa yang takut ini, mengusap pilu yang mengalir deras dalam batin ini. Sama seperti biasanya, secarik doa kupintakan kepada-Nya untuk kekasihku itu, Ya Tuhan izinkan batinku memiliki sepenuhnya hati itu, izinkan seutuhnya hamba memenangkan cintanya. Pilu sekali hidup Enola ini, kalau dipikir-pikir tak sepilu itu juga, bukankah dengan begitu adalah cara Tuhan menunjukkan betapa tulusnya cinta Enola untuk Danendra?. Aku Enola, bersungguh-sungguh serta tak ada keraguan melabuhkan cintaku kepada Danendra. Danendra yang dingin, kasar, serta keras kepala sama sekali tak membuat cinta dalam diriku meredup, entah mengapa seperti itu. Tak tau lagi entah biru yang keberapa tergambar dalam tubuh mungilku ini aku tetap ingin menjadi payung dalam badai hidup Danendra. Oh sial! jadi payung katanya, haha hidupnya saja masih terombang ambing dalam badai lautan, sok-sokan ingin memayungi badai orang lain. Tak begitu, aku hanya tidak ingin menjadi manusia pendendam, tak apa aku sakit tapi setidaknya secercah cara telah kulakukan untuk menyelamatkan hidup seseorang, ya walaupun itu tak ada artinya dimata orang itu. Hari-hari masih kulalui seperti biasanya, sibuknya perkuliahan kini mulai terasa, ya maklum saja sudah menjelang semester tua. Kemana arah hubungan ini? heran, di depan teman-teman Danendra seperti 'malu' mengakui ku sebagai pasangannya. Karena diriku yang tak secantik teman-teman yang lain atau karna apa? tapi tak mengapa dalam fikirku mungkin Danendra hanya tak ingin kita berdua menonjol diantara kerumunan teman-teman yang lain. Hampir setahun diriku membersamai Danendra tak pernah tau serta memang tak ingin cari tau berapa password ponselnya, apa kata sandi sosmednya dan dengan siapa Danendra sibuk mengirim pesan-pesan itu padahal kami berada di satu atap yang sama. Aku tak ingin ambil pusing serta mencari penyakit untuk diriku sendiri, bodoh tak usah munafik kau Enola! bukankah dirimu selalu menangis pilu ketika Danendra  enggan barang sesekali mengunggah foto kami berdua dalam akun sosial medianya. Haha aku tak sepolos itu, aku tau, sudah pasti Danendra enggan pengikut akunnya mengetahui bahwa dirinya bukanlah seorang single haha seburuk  itukah paras diriku hingga sama sekali tak pernah kudengarkan kata sanjungan dari mulut Danendra memujiku. Tuhan lelah sekali rasanya kalau ketulusan cinta tak ada artinya bila fisik tak sempurna. "Kamu gendut, jelek" "Bajumu tidak matching" "Outfitmu seperti ibu-ibu beranak satu" "Juling, jelek" kata-kata yang selalu harus kudengarkan dalam setiap harinya, tangis memberontaki diriku sendiri, sejuta maaf untuk diriku sendiri pada saat itu, menyesal pernah memberontak dengan diri sendiri, menyesal selalu menyalahkan diri sendiri untuk semua cacian Danendra, sungguh Enola! kau tak seburuk itu, kau hanyalah bunga lily yang tumbuh di dataran rendah yang panas alias bukan disitu tempat tumbuh paling sempurnamu. Rasa-rasanya aku hidup ya memang karena masih hidup, semangatku tak semembara dulu lagi, asa ku tak ada, mimpiku rasa-rasanya memanglah hanya tinggal mimpi. Diriku memang sudah menjadi sosok yang berbeda, seperti burung yang terbang tak tau arah tujuannya, aku kehilangan diriku sendiri, ya! Kesana kemari diriku sibuk untuk menjadi sosok ini sosok itu, hanya agar Danendra sedikit memujiku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Bait

Karsa Enola

Enola rindu