Sisi Enola yang Hilang

 Rasa - rasanya hari berjalan begitu lambat, detik demi detik, waktu demi waktu, ku lalui dengan situasi yang begini - begini saja. Luka sepertinya telah menjelma menjadi makanan sehari - hariku. Puluhan batang rokok terbakar dalam setiap minggunya, bingung sembari memikirkan lantas bagaimana selanjutnya hidupku? bagaimana dengan segala mimpi serta harapnku yang tertinggal jauh dalam Enola yang dahulu. Tiba - tiba hidup berjalan begitu serius akhir - akhir ini, hingga tak kusadari banyak yang hilang dari diriku, sial aku merindukan diriku yang dahulu. Serasa melihat cuplikan sebuah film, dalam benak terlintas betapa riangnya Enola dahulu. Tak terasa air mata itu kian mengguyur pipiku, tangis pilu tak dapat terbendung lagi. Sialnya dalam posisi seperti ini diriku menyaksikan sendiri bagaimana Danendra membangun hubungan - hubungan dengan hati yang lainnya. Dalam pesan yang diam - diam Danendra kirimkan kepada sosok lain itu diriku tersenyum getir, sepertinya Danendra nampak lebih bahagia dengan sosok itu. Kalut melandaku, dalam satu sisi diriku bahagia melihat Danendra menemukan bahagianya, dalam benak lainnya aku menganggap begitu tak adilnya hidupku. Tuhan apakah sesakit itu mencintai seseorang? Tuhan apakah diriku begitu tak layak untuk merasakan indahnya dicintai? Tuhan jika sesakit ini cinta, kumohon jangan pernah hadirkan lagi rasa cinta dalam diriku Tuhan. Di samping Danendra diriku membungkam suara tangis agar tak membangunkannya yang saat itu dirinya sedang terlelap dalam tidur. Hitungan jam diriku meratapi semuanya, hingga akhirnya Danendra terbangun dalam tidurnya, tatapan penuh tanya terlihat dari sorot mata Danendra. Kutatap mata itu dalam - dalam, tanpa kusadari air mata kembali jatuh membasahi pipiku. "Hei Kenapa?" ucap Danendra seraya memelukku, sial hatiku bergemuruh tak menentu. Pelukan itu lama tak kurasakan, begitu damai dalam dekap Danendra, tangisku semakin pilu. Danendra mengusap rambutku seraya menebak perihal apa yang membuatku begitu kalut, sepertinya ia telah mengetahuinya. Maaf terucap dari bibir Danendra seraya masih tetap memelukku erat, berontak diriku kala itu, rasa - rasanya begitu muak mendengar kata maaf setelah menemukan fakta yang membuatku terluka. Kupertegas kepada Danendra, "aku ingin pergi, tolong untuk kali ini saja permudahlah jalanku, aku tak ingin bersaing dengan cinta yang lainnya, aku hanya ingin menjadi satu - satunya bukan salah satunya" air mata mengalir dari mata Danendra, dengan berontakan kecilku ia memaksa memeluk tubuh ini pecah tangis kami kala itu. Dengan hati yang mantap diriku melepas paksa peluk Danendra kala itu lalu bergegas pergi meninggalkan Danendra. Sepanjang jalan yang kutempuh aku tak kuasa menahan tangis serta sakit yang terus menggebu-gebu dalam hatiku. Sesampainya dikamar kecilku aku segera terjun membaringkan tubuhku, memberi ruang kepada diriku sendiri untuk meluapkan semua rasa sakit yang ada. Bagaimana bisa ini semua tak mengurangi rasa cintaku kepada Danendra? jelas-jelas aku mengetahui ia membagi hatinya kepada perempuan lain. diiringi alunan lagu melankolis bertaut - Nadin Amizah aku ingin memeluk ibu, aku ingin mengadu kepadanya "ini semua tak adil bu, sedari kecil aku tak pernah merasakan seperti apa indahnya dicintai, ibu apakah aku terlahir hanya untuk memeluk luka bu? bahkan ibu sendiri bertutur kepadaku saat hari kelahiranku ibu tak bahagia akan hal itu, ibu lalu untuk apa aku disini bu? kepada siapa diriku mencari kekuatan bu? ini kemana arah tujuannya bu? sungguh aku tak tau bu" minggu yang sungguh kelabu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Bait

Karsa Enola

Enola rindu